Minggu, 07 Maret 2021

RASAKAN KAU!

Kokok ayam jantan membangunkanku dari mimpi indah satu malam, sekejap, bangun, hilang, dan dunia berubah. betapa tidak, mimpi yang sedang kurangkai hilang dalam sekejap, ketika mata berusaha untuk tidak kubuka tiba-tiba kesalahan itu memaksaku untuk membukanya. Tuhan menegurku dengan satu ketukan, ucapan adalah taruhan, tindakan adalah pertarungan, dan ayam jantan adalah kesalahan itu. 

Sesal? jelas itu sangat memukul telak hingga  menidurkanku kembali, bukan untuk meraih mimpi tadi, hanya untuk menyadarkan bahwa mimpiku sudah beranjak pergi. Benar-benar gila aku dibuatnya, mimpi itu menertawaiku, menganggap semua rasa hanya sebatas kata, padahal betapa dalam rasa itu hingga ketulusan sangat sulit untuk dikoyakkan. "Hei, untuk apa kau bertahan?" bisikan itu membuat gendang telingaku hampir pecah, kata itu membuatku terpuruk parah, buntu jalan pikirku tanpa arah, gerakanku terbatas karena mimpiku patah. 

Aku tahu, ada campur tangan Tuhan dibalik semua ini, tinggal bagaimana caraku berprasangka padaNya, baik atau buruk.

Ada rencana yang lebih baik? mungkin saja, tidak bisa kuterka dan kubayangkan, krna dadaku penuh dengan penyesalan aku hanya bisa menggumam takdir Tuhan begitu pahit untuk saat ini. 

Ah! ini kesalahanku, tak seharusnya Tuhan kuikut sertakan, tapi jika bukan, kepada siapa lagi kucurahkan?. Dan pintaku saat ini, jika memang Kau maha membolak balikan sesuatu, kembalikan mimpi itu dan aku berjanji kepadaMu akan kurawat mimpi itu sepenuh jiwa dan ragaku.

 


Kamis, 04 Maret 2021

AYAM KURANGAJAR

Kokok ayam jantan membuyarkan mimpi

menyeret kembali pada apa yang seharusnya terjadi

satu persatu mimpiku seperti lenyap

satu persatu kesadaranku mulai terungkap


padahal,


semalam aku sedang merencanakan surga

konon, disana segala pinta akan dikabulkan serta merta

kita berjanji bertemu disana


ayam kurangajar, semua sirna


-am

Rabu, 03 Maret 2021

MALAPETAKA

mungkin bisa! berteman

dalam pesan-pesan yang

singkat. hilang debu

di mataku, kata-kata

menembus sepi yang

pura-pura.


tidak nanti, membisu

tempat duduk di tangga kelas

air hujan, membekas

putaran roda motor, hampir menuju

sesalku.


atau dua jiwa, berkerumun

biar perempuan! biarkan

cinta itu membiasakan

berganti.


malapetaka cinta

tetap ada, aku bisa!

ketulusan melenyapkan

segala asa

kepergian tercipta, jika

kau yang meminta


Senin, 01 Maret 2021

AKU AKU AKULAKU

di siang bolong yang melolong

aku menjelma kupu-kupu jalang

menyanyikan lagu-lagu ilalang

bercumbu dengan bayang,

bersama kebimbangan, yang 

masih meradang


disiang yang sama,


matahari tersipu malu,

bergerak dengan merudu 

sinarnya redup siang itu

hadirnya tak diharapkan rabu

tawanya hanya semu

terhimpit gumpalan awan kelabu



Minggu, 28 Februari 2021

YANG KURINDU TAK MERINDU

kau tancapkan rindu  berkali-kali

menghujami rindu bukan dengan hati 

perih, rindumu hanya sebatas kata

bukan temu yang kau damba


rindumu tumpul, berkarat

rinduku tajam, menyayat


kata rindumu, semu

kata rinduku, temu


Sabtu, 27 Februari 2021

DONGENG DINI HARI

Tanpa saling jatuh cinta, percakapan tidak akan pernah sepanjang dan sekokoh tembok cina, diselingi dengan doa-doa disepertiga malam aku hanya meminta Tuhan ikut menjaga obrolan kita berserta rencana-rencana baik didalamnya.

Berawal dari mengenalmu tanpa berharap apa-apa, kini aku jatuh cinta pada caramu mencinta, walau aku tahu konsekuensi jatuh cinta tidak pernah mudah namun tetap saja jatuh cinta adalah anugerah paling indah. 


Di mulai dengan rasa percaya bahwa setiap hati selalu ada pemiliknya. Dan kamu adalah rumah bagiku yang berniat pulang setelah berjuang. Aku tahu tidak semua yang diperjuangkan itu pandai menghargai, beberapa justru mengkhianati tapi bagiku jatuh cinta padamu adalah ketidaksengajaan yang menyenangkan dan aku siap dengan segala risiko yang akan didapatkan. 


Sepertiga malam membawa kantuk yang luar biasa, setelah percakapan panjang itu aku punya mimpi besar untuk hidup bersamamu selamanya, mudah-mudahan Tuhan tidak membangunkanku dari tidur. 


28 Feb. 21





IMPIAN PENDOA

Hei puan, malam kemarin kau masih sebatas mimpi

dalam ruang gelap, setitik cahaya

malam ini, kau menyelinap dengan sigap

mendatangkan lentera pada ruang gelap

memberi aroma segar pada hati yang telah engap

sumbu yang telah padam, kini nyala dengan sekejap


Dibibir para pendoa,

Tuhan tidak pernah bergurau pada hati yang tulus meminta

tanpa tawar menawar kau menjelma menjadi nyata

sejak saat itu, kata mustahil hilang dalam kamus hidupku

terlalu sederhana pintaku malam itu

tapi pintaku malam ini, berbahaya

aku ingin warnamu lebih menyala 

dalam setiap malam tanpa jeda

keyakinan dan setiaku pada sang pencipta

dengan doa yang selalu basah di bibir pendoa

harapan tak pernah kering dan kosong



-am